Google
 
<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5589029613667165524?origin\x3dhttp://amriltg.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Selasa, Oktober 30, 2007

KETIKA PARA BLOGGER BERPESTA

Pesta Blogger 2007
Blitz Megaplex yang berlokasi di Lantai 8 Grand Indonesia tak jauh dari Bundaran HI Jalan MH.Thamrin Jakarta, pada Hari Sabtu,27 Oktober 2007 mendadak gegap gempita “dikerubuti” para blogger Indonesia yang akan menghadiri Pesta Blogger 2007 (PB 2007). Saya tiba di lokasi hajatan temu darat terbesar para penulis di dunia maya ini di salah satu jaringan bioskop terkemuka di Indonesia pukul 10.15 WIB. Di pelataran lobby bioskop terlihat sekitar dua ratusan orang bergerombol membentuk kelompok-kelompok sendiri, berbincang akrab satu sama lain.

Beberapa orang panitia, termasuk Chairman PB 2007, Enda Nasution, terlihat sibuk mondar-mandir mempersiapkan perhelatan akbar ini. Spanduk-spanduk serta poster sejumlah sponsor acara terbentang dibeberapa tempat nyaris menyaingi poster-poster promosi film di Blitz Megaplex. Nampak pula beberapa komunitas blogger mengenakan seragam kaos khusus yang mencirikan identitas komunitas mereka masing-masing. Memang, sejumlah komunitas blogger—baik regional maupun non regional—hadir di PB 2007, sebut saja misalnya Komunitas AngingMammiri Makassar, Angkringan dan Cahandong Yogyakarta, Loenpia Semarang, Bandung Blog Village (BBV) Bandung, Go Ranah Minang Padang, Tukang Lenong dari Jakarta serta komunitas non regional seperti Blogfam, Komunitas Blogger Muslim, Merdeka, Multiply Indonesia dan ID-Gmail. Pokoknya begitu Semarak, meriah serta menyiratkan suasana dan spirit “pesta” sedang berlangsung disana.

Saya sempat menyapa beberapa blogger yang saya kenal termasuk berkenalan dengan blogger professional di Indonesia, Budi Putra. Di salah satu sudut lain, salah satu blogger senior Indonesia, Wimar Witoelar, tengah “dikeroyok” para penggemarnya dari yang sekedar ingin menyapa atau berfoto bersama. Saya akhirnya terlibat asyik berbincang dengan sejumlah kawan-kawan blogger di komunitas khusus blog yang saya ikuti yakni blogfam dan Anging Mammiri. Tidak hanya itu saya juga menemui kawan-kawan yang kerap mengunjungi blog saya meninggalkan pesan disana atau yang biasa saya temui ketika “blogwalking”. Sungguh sebuah pertemuan sangat menyenangkan dengan orang-orang yang hanya sering saya temui secara virtual di internet dan ingat dari nama blognya saja.

Tepat pukul 11.15, pesta yang mengusung tema “Suara Baru Indonesia” itu dimulai. Acara pembukaannya berlangsung di Auditorium-2 Blitz Megaplex dengan dihadiri oleh 482 orang blogger, pemerhati blog dan wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik. Hampir seluruh kursi yang tersedia di tempat tersebut terisi.

Dalam kata sambutannya, Enda Nasution, sebagai Chairman PB 2007 mengajak agar, pada hari yang bersejarah ini ditandai sebagai sebuah tonggak dimana pertukaran idea, keterbukaan, dan partisipasi akan mengalahkan kejumudan, ketertutupan dan apatisme. Inilah waktunya untuk berbicara, untuk berkekspresi, untuk berpartisipasi. Inilah waktunya bagi kita semua untuk menjadi. Lewat blog, lanjut Enda yang juga dijuluki sebagai Bapak Blog Indonesia ini, kita melihat, mencermati, menulis, dan berbagi tentang keseharian kita, tentang apa yang terjadi di sekeliling kita. Lewat blog, sebuah kesadaran kolektif di dunia maya tengah terbangun. Dan lewat blog, percayalah, pada suatu titik kita pun dapat mengambil aksi. Akhirnya Enda mengajak hadirin untuk menetapkan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional yang segera disambut tepuk tangan gemuruh.

Menkominfo Muhammad Nuh yang tampil setelah itu, segera menyambut ajakan Enda dengan mengukuhkan tanggal 27 Oktober diperingati sebagai Hari Blogger Nasional. Pengukuhan itu tak ayal mengundang tepukan riuh membahana hadirin PB 2007. Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya itu lalu balik menantang blogger untuk membuat lagu resmi Blogger Indonesia, jika perlu dilombakan dan akan dikumandangkan pertama kali pada Pesta Blogger mendatang. Menkominfo juga menjamin Departemennya tidak akan melakukan pembredelan blog yang membelenggu kebebasan berekspresi serta memberikan apresiasi sepenuhnya bagi perkembangan dunia blog di Indonesia. Muhammad Nuh juga menyampaikan harapan agar acara-acara seperti ini dapat dilaksanakan secara intensif dimasa-masa yang akan datang. "Saya rasa pertemuan atau acara seperti ini perlu dilakukan secara berkala, jangan berhenti disini, apalagi pertemuan secara fisik memang penting daripada hanya secara virtual,"tutur Muhammad Nuh yang konon memiliki anak yang doyan ngeblog ini.



Usai sesi Pembukaan, dilanjutkan dengan Talk Show yang menampilkan Wimar Witoelar sebagai moderator dan para panelis antara lain, Muhammad Nuh, Budi Putra, Enda Nasution dan Adrianto Gani. Pada sesi yang dipandu oleh Wimar dengan segar, kocak dan memikat ini, ada tanggapan menarik dari Dirjen Aplikasi Telematika Cahyana Ahmad Jayadi. “Blogger itu adalah Perekat Bangsa,” ujar Cahyana yang juga adalah seorang mantan mahasiswa yang pernah diajar oleh pemandu acara, Wimar Witoelar.

Menurut Cahyana lagi, dengan konten yang menarik dan berkualitas, seorang blogger—melalui posting di blognya--sangat berpeluang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebaliknya meski memiliki desain menarik namun isinya tidak berbobot, maka blognya akan kehilangan makna, mungkin malah justru memperbodoh kehidupan bangsa.

Tak hanya itu, Cahyana kembali “menantang” para blogger untuk meningkatkan jumlah blogger di Indonesia dari 130,000 blog yang terdeteksi sekarang menjadi Satu juta blog ditahun depan. “Akan lebih baik,”sambungnya lagi, “jika jajaran guru juga menjadi blogger dengan mengupload bahan ajaran di blognya, sehingga tak hanya dibaca oleh murid-muridnya tapi juga oleh setiap orang yang berkunjung ke blog tersebut. Namun Cahyana mengakui bahwa, prasarana menjadi kendala utama dalam program ini. Ia berharap agar kiranya para guru dan departemen terkait dapat bekerjasama dengan Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia untuk mengusahakan program Laptop murah untuk Guru (Laptop for Teacher).

Ada hal menarik dalam sesi talkshow ini. Ketika Wimar Witoelar menanyakan siapa saja yang datang dari jauh menghadiri acara ini, seorang blogger asal Poso, Ruslan Sangadji
mengacungkan tangan. Ruslan mengaku nekad datang ke Jakarta untuk menghadiri PB2007. “Tapi saya tidak punya uang beli tiket kembali ke Poso,”ujar Ruslan tersipu. Untunglah kegundahan Ruslan soal tiket ini dapat terselesaikan berkat salah satu provider GSM yang turut menjadi sponsor acara PB2007 bersedia membayarkan tiket pulang ke Poso buat Ruslan.

Tidak hanya Ruslan sebenarnya. Ada empat orang blogger dari Makassar (dari total 8 orang perwakilan resminya) yang mewakili komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri (
www.angingmammiri.org) datang dari jauh untuk mengikuti acara ini. “Saya tiba dari Makassar pagi ini dan kembali lagi ke Makassar dengan pesawat sore. Tiga kawan yang lain sudah datang lebih dulu dua hari sebelum acara,” kata Irayani Queencyputri, sang ketua komunitas AM, bersemangat. Komunitas AM turut berpartisipasi dalam acara PB2007 sebagai kontributor dengan mempersembahkan 500 CD-ROM untuk para peserta yang berisi profil, kegiatan AM dan tutorial blog yang disertakan bersama dalam “goodie bag” peserta.

Pada kesempatan talkshow itu pula, Rovicky Dwi Putrohari, seorang blogger Indonesia yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan migas di Kuala Lumpur Malaysia dan mengasuh blog “Dongeng Geologi”
ini meminta agar pasca Pesta Blogger 2007 agar bisa ditindaklanjuti dan tidak hanya berhenti sampai disini saja. “Kita harus memikirkan strategi terbaik, agar blogger Indonesia tak seperti katak dalam tempurung,” tegas Rovicky yang mengaku tiba dari Kuala Lumpur dengan pesawat pagi dan rencana akan kembali dihari yang sama.

Enda Nasution menanggapi komentar Rovicky dengan menyatakan bahwa, kedepan pasca PB 2007, diharapkan akan dibentuk Blogging Center Indonesia sebagai media informasi,edukasi, koordinasi dan advokasi untuk para Blogger. Meski sebenarnya, lanjut Enda yang mengasuh blognya di
www.enda.goblogmedia.com ini, “sejumlah komunitas blog yang telah ada sudah melakukan fungsi-fungsi layaknya Blogging Center itu”.

Pada kesempatan lain, Budi Putra seorang blogger senior dan juga CEO Asia Blogging Network mengungkapkan, bahwa seindah apapun desain sebuah blog namun jika tidak memperhatikan isi yang ditampilkan, maka blog bersangkutan akan kehilangan artinya. “Ingat,”tukas Budi,”Masa depan Blog itu ada di Content. Dengan content yang bagus tentu akan menarik minat pengunjung dan tentu saja akan memberikan kontribusi bermanfaat bagi pembacanya”. Budi memuji pula kemampuan para blogger Indonesia yang mampu menulis dengan baik dengan metode Learning by doing.

Pihak Panitia PB 2007 juga menyediakan layanan liputan online secara “real-time” bagi para blogger Indonesia yang berhalangan hadir atau yang berada diluar negeri untuk ikut menikmati pesta secara virtual. Layanan tersebut berupa liputan online webcam melalui fasilitas conference chatting di YahooMessenger(YM) dan IRC.


“Wah..repot juga, Mas, saya sempat kewalahan melayani permintaan para blogger di YM. Ada yang kirim salam mesra dari jauh buat blogger Indonesia di PB2007, ada yang marah-marah karena koneksinya putus-putus atau malah ada yang heboh tebar pesona di ruang chatting. Tapi saya senang, kawan-kawan yang tidak datang bisa saya dapat jembatani untuk menikmati pesta meski secara online,” kisah Be Samyono yang bertindak sebagai relawan yang menangani liputan online PB 2007 di YahooMessenger dan mewakili komunitas blogfam.

Usai makan siang dan memilih blog favorit di 5 laptop yang disediakan panitia, peserta memasuki acara “break-out session”. Pada acara ini para peserta diberikan kesempatan untuk bertukar pengalaman dengan para blogger handal sesuai dengan kategori blog mereka. Ada 7 kategori yang ditawarkan, antara lain kategori Online marketing dan Sales: Nukman Luthfie dan Budi Rahardjo, Women’s issues: Lita Mariana dan Enny, Blog Teknologi: Priyadi dan Risman Adnan, Blog Personal: Anjar Priandoyo dan Nila Tanzil, Blog Selebriti: Maylaffayza dan Joko Anwar, Current Issues: Ndoro Kakung Pecas Ndahe dan Sir Mbilung Mac Ndobos dan Bridge Blogging: Ong Hock Chuan dan Fatih Syuhud.

Saya memilih untuk mengikuti sesi blog Personal bersama Nila Tanzil
dan Anjar Priandoyo yang dilakukan secara santai sambil berlesehan ria di lantai 9 Blitz Megaplex. Saya memilih sesi ini karena sangat terkait dengan topik blog yang saya miliki sekarang , selain itu saya ingin mendengar langsung pengalaman dari Nila Tanzil, seorang blogger yang sempat menjadi kontraversi karena postingnya tentang kinerja dewan pariwisata Malaysia diblog tanggal 1 Februari 2007, hingga mengundang kecaman Menteri Pariwisata Malaysia Datuk Seri Tengku Adnan Tengku Mansor dengan mengatakan bahwa apa yang ditulis Nila dalam blog-nya adalah bohong belaka.
Dalam sesi tersebut, Nila, yang menyandang gelar Master dari European Communication Studies University of Amsterdam ini menceritakan sungguh terharu atas dukungan para blogger Indonesia ketika ia dirundung masalah, hingga ia mesti kehilangan pekerjaannya sebagai presenter di sebuah stasiun TV terkenal. Melalui pengalamannya tersebut, Nila menarik banyak hikmah yang sungguh berharga. “Kita mesti berani menyatakan pendapat atas dasar kebenaran. Tidak usah takut. Dan sebagai blogger kita mesti siap menerima segala resiko yang mungkin terjadi,” tandas Nila.

Sementara itu Anjar yang saat ini bekerja sebagai auditor disebuah akuntan publik membagi pengalamannya, sempat menggemparkan orang-orang dikantor karena postingnya diblog. Salah seorang blogger yang hadir disesi tersebut, Meity Mutiara (www.meitymutiara.blogsome.com) , menyatakan blog bisa menjadi sarana komplain yang efektif terhadap pelayanan fasilitas publik. Seorang blogger lain, membagi pengalamannya berhasil mengumpulkan dana kemanusiaan untuk korban bencana alam hampir sebesar satu milyar dalam jangka waktu dua tahun, semua ini karena tulisannya diblog yang senantiasa mengangkat tema sosial. Pada kesempatan itu, saya juga sempat membagi pengalaman saya dapat membukukan blog anak saya, Rizky (
http://muhrizkyauliagobel.blogspot.com) serta Cerita Pendek yang saya tampilkan diblog diangkat menjadi episode di Sinetron Religi Maha Kasih-2 dan Pintu Hidayah di RCTI.

Sayang sekali, waktu yang disediakan panitia sudah habis. Dengan waktu hanya sekitar satu jam, saya merasa kurang cukup untuk berdiskusi lebih dalam mengupas bagaimana sesungguhnya potensi blog personal dalam mempengaruhi opini publik. Kami para peserta “Break Out Sesion” di sesi Personal Blog, mesti kembali ke ruang Auditorium.

Pukul 14.45 seluruh peserta PB2007 sudah kembali ke auditorium untuk menyimak hasil rangkuman diskusi di “Break Out Session”. Kesimpulan menarik datang dari Nukman Luthfie. CEO Virtual Consulting ini memaparkan bahwa blog ternyata membuka peluang lapangan kerja, khususnya dibidang internet marketing. Nukman memberi contoh situs toko buku online
www.kutukutubuku.com yang memperoleh omzet hingga lima juta rupiah satu bulan berkat kehandalannya melakukan promosi yang gencar lewat online sales dan marketing termasuk memasang iklan melalui blog. Pokoknya, kata Nukman, berani “mem-branding-kan” diri sendiri, itulah suara baru para blogger.

Di kesempatan berikutnya, Wicaksono yang mengasuh blog di
www.ndorokakung.com dan menjadi panelis di sesi Current Issues memberikan tips jitu untuk menulis diblog. “Jadilah diri sendiri dan tulislah apa adanya serta buatlah tulisan yang menarik dan berbeda dengan media-media konvensional yang sudah ada,” ujar Wicaksono yang juga berprofesi sebagai seorang jurnalis ini.

Maylaffayza
, panelis di sesi Celebrity Blog menyepakati bahwa blog memiliki kekuatan tersendiri dalam membangun hubungan personal antar blogger. Interaksi blogger akan kian dekat ketika kita tahu apa saja aktifitas keseharian blogger yang lain dengan berkunjung ke blognya. “Inilah,” kata Maylaffayza yang juga berprofesi sebagai violist handal Indonesia itu,”The beauty of blog”.

Tepat Pukul 15.30 Pesta para penulis di dunia maya itu, ditutup dengan ditandai pengumuman blog favorit dan doorprize. Blog favorit untuk kategori online marketing and sales adalah Media Ide Bajing Loncat , blog favorit untuk kategori woman’s issues adalah Fashionese Daily , blog favorit untuk kategori Blogging technology adalah ilmukomputer, blog favorit untuk kategori Personal Blog adalah Istri Bawel , blog favorit untuk kategori Celebrity blog adalah Jennie S. Bev, blog favorit untuk kategori Current issues adalah Perspektif Online, blog favorit untuk kategori Bridge blogging adalah Enda Nasution , dan Blog favorit untuk kategori blog Pendatang Baru adalah Lidya Wangsa. Masing-masing pemenang mendapat hadiah yang menarik, dan sertifikat. Khusus untuk pemenang kategori Blog Pendatang Baru terfavorit memperoleh hadiah Nokia N-73 Music Edition. Pada kesempatan itu pula dibagikan sejumlah doorprize dari berbagai sponsor kegiatan PB2007.

Keberuntungan berpihak pada “Media Ide Bajing Loncat” karena berhasil memperoleh Laptop persembahan spesial dari Kementerian Menkominfo.
Sebelum meninggalkan panggung setelah acara talkshow selesai, Menkominfo Muhammad Nuh, menjanjikan akan memberi hadiah laptop bagi siapapun yang memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan blog favorit. Ternyata, di akhir acara, yang mendapatkan suara terbanyak dalam pemilihan tersebut adalah Enda Nasution (48 poin), tetapi ia menyerahkan kemenangannya itu kepada blogger yang meraih suara kedua terbanyak, yakni Media Ide Bajing Loncat (41 poin).

Dan pesta itupun berakhir sudah. Dalam perjalanan pulang kerumah, masih terngiang ditelinga saya ucapan blogger senior Indonesia Wimar Witoelar yang menggema lantang hingga ke relung-relung batin terdalam. Menurut lelaki yang sudah ngeblog 12 tahun ini, “3 hal penting yang perlu dimiliki seorang Blogger yakni, punya sikap, berani menyatakan sikap dan siap menerima segala konsekuensinya”.


SELAMAT HARI BLOGGER INDONESIA!!

Label:

Rabu, Agustus 29, 2007

PAPA, JANGAN MENANGIS !

Peringatan Hari Kemerdekaan ke-62 tahun ini, 17 Agustus 2007 merupakan hari kelabu buat keluarga kami. Anak tertua saya, Muh.Rizky Aulia Gobel, yang baru saja keluar dari Rumah Sakit seminggu sebelumnya karena sakit typhus, terpaksa masuk rumah sakit lagi karena tersiram air panas dari bagian dada ke perut.

Kejadian memilukan itu terjadi dipagi hari saat saya dan putri bungsu saya, Alya sedang merias sepeda Rizky dalam rangka Karnaval 17 Agustus 2007 yang akan dilaksanakan pada sore harinya. Pada saat yang sama, Rizky sedang nonton film kartun di Televisi sambil diberi makan pagi oleh Bibi, pembantu saya.

Istri saya, yang berniat untuk mandi mengangkat panci yang berisi air panas ke kamar mandi. Tanpa disangka-sangka, Rizky berlari kencang kearah luar dan akhirnya menabrak panci berisi air panas tersebut. Tak ayal tubuh putra pertama saya itu terguyur air panas mendidih. Rizky berteriak histeris. Saya segera berlari dan membopong tubuh putra pertama saya itu ke kamar mandi. Tubuhnya berkelojotan menahan sakit. Dikamar mandi, saya segera mengeluarkan kaos yang dikenakan Rizky ketika itu (sebagian besar sudah sobek). Dengan tangan gemetar dan mata basah, istri saya mengguyur tubuh Rizky dengan air dingin di kamar mandi untuk meredakan panasnya. Pada bagian dada Rizky sudah berwarna putih dan kulit gosong terkelupas. Di lengan kirinya dari ketiak hingga jari melepuh. Sebagian berwarna putih dan sebagian berwarna hitam.

Istri saya langsung menggendong Rizky dan tergopoh-gopoh memanggil ojek yang sedang mangkal didekat rumah kami. Sayapun segera menyambar anak kedua saya, Alya yang tertegun didepan pintu menyaksikan kejadian mengerikan itu lalu bergegas naik ke ojek berikutnya. Kami segera Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Harapan International Jababeka Cikarang yang terletak kurang lebih 2 km dari rumah kami.

Di ruang gawat darurat rumah sakit, dua orang dokter jaga dan lima orang perawat dengan cekatan menangani Rizky yang terus menerus berteriak kencang. Saya berada disamping kepala Rizky berusaha menenangkannya. Tak jauh dari situ, Istri sayapun menangis kencang sembari menggendong Alya. Seorang perawat wanita setengah baya nampak sedang merangkul pundak istri saya.

Larutan NaCl yang dingin disiramkan terus menerus ke tubuh Rizky oleh dua orang perawat. Pada bagian dada dan lengan sebelah kiri terlihat berwarna putih dengan kulit terkelupas. Saya tidak tega melihatnya apalagi melihat Rizky terus berteriak menahan sakit dan panas yang tak tertahankan. Saya memandang pilu putra terkasih saya itu dan seraya berusaha menahan agar airmata saya tidak tumpah. Jika memang memungkinkan, ingin rasanya saya memindahkan rasa sakit yang dialami Rizky kepada saya.

Setelah dilakukan penanganan seperlunya di ruang Unit Gawat Darurat, Rizky lalu dipindahkan ke kamar 314. Istri saya dan Alya pulang kembali kerumah menyiapkan perlengkapan saya dan Rizky di Rumah Sakit.

Saat pamit pulang pada Rizky, tangis istri saya meledak kembali ketika Rizky berucap lirih saat ibunya mencium keningnya.

“Mama, kenapa mas kiki disiram air panas ?”

Spontan wajah istri saya memucat. Ia langsung mendekap wajah Rizky dengan mata basah oleh airmata.

“Mama tidak sengaja, nak. Mama tidak sengaja,” ucap istri saya terbata-bata. Raut wajah penyesalan tergambar diwajahnya. Rizky menggigit bibir lalu memejamkan matanya.

Saya memeluk erat Alya yang meringkuk sedih ke dada saya. Degup jantung saya berdetak begitu cepat. Keharuan meruap kental diruangan kamar 314.

Istri saya mengambil alih Alya dari pelukan saya. Dengan punggung tangan saya menghapus air mata dipipinya lalu memeluk erat kedua perempuan yang sangat saya cintai itu. Membagi kehangatan juga membangkitkan ketabahan. Pelupuk mata saya mulai menghangat. Basah.

Rizky menyaksikan pemandangan memilukan itu dari tempat tidurnya.

“Papa, jangan menangis!” serunya pelan.

Saya buru-buru menyeka airmata yang tumpah dengan punggung tangan kemudian bergegas mendekati Rizky disisi pembaringan. Lalu mencium pipinya.

“Papa tidak nangis, nak. Hanya kemasukan lalat,” saya berusaha menenangkan hati putra tertua saya itu seraya mengusap lembut kepalanya.

Kamar 314 sangat dingin. Perawat sudah menyetel Air Conditioner ke temperatur paling rendah agar rasa panas menusuk yang dialami didada akibat siraman air panas Rizky dapat teratasi. Ternyata itu belum cukup. Rizky masih mengerang kesakitan sekaligus kepanasan.

Saya lalu mengambil koran yang terletak disamping meja dan mengipas-ngipasi tubuh anak tercinta saya itu. Keadaannya sudah lebih baik. Rizky menjadi sedikir lebih tenang walau belum juga tertidur, padahal sudah diberikan obat anti nyeri dan obat penenang sejak di ruang ICU tadi.

Saya berusaha menahan kesedihan yang meluap-luap dalam dada saat menyaksikan kondisi anak tercinta saya mengalami kepedihan yang luar biasa. Luka bakar yang dialami Rizky cukup besar, sekitar 20% dari seluruh badannya.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Keterangan : Rizky, 3 jam setelah kejadian (17/08/2007)

Terbayang kembali keceriaan Rizky dan juga sikap antusiasnya—bersama sang adik, Alya—menyongsong kedatangan saya pulang dari kantor. Mereka berdua langsung menyerbu saya dengan ciuman dan berebut minta digendong. Kedua anak saya itu lalu naik bergantian “menginjak” punggung saya diatas tempat tidur sembari sesekali bercanda satu sama lain. Keletihan saya menjadi pekerja komuter Jakarta-Cikarang seketika menguap.

Rizky juga sangat senang saya ajak main tembak-tembakan di Timezone ataupun Playstation dirumah. Kami berdua sering bermain dan tertawa bersama jika salah satu diantara kami kalah atau “tertembak musuh”.

Pada saat yang sama saya terkenang kebandelan Rizky masuk sarung dan mencabuti bulu kaki saya saat sholat di Masjid belakang rumah atau suara lengkingan “Amiin”-nya ketika kami sekeluarga sholat berjamaah bersama. Saat saya, Rizky dan Alya jalan-jalan sore menumpang motor Suzuki Shogun kami yang berjalan dengan kecepatan rendah di akhir pekan, saya kerap mendengar Rizky—yang duduk dibelakang saya—berteriak kencang menentang angin. Alya adiknya yang duduk didepan, ikut-ikutan berteriak mengikuti ulah kakaknya. Kami lalu tertawa bersama.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Keterangan : Kondisi Rizky Hari Minggu,19 Agustus 2007

Tanpa sadar airmata saya menitik. Rizky yang baru saja seminggu keluar dari Rumah Sakit yang sama karena sakit Typhus kini harus kembali lagi dirawat inap karena musibah tak terduga tersiram air panas. Sungguh berat derita yang dialami putra sulung ini.

“Papa, jangan menangis!” seru Rizky tiba-tiba.

Saya terperangah lalu buru-buru menghapus airmata yang jatuh dipipi dan kembali mencium pipinya. Lama.

Saya paham, sesedih apapun saya, Rizky menghendaki, sebagai ayahnya, saya tetap tegar dan tangguh menghadapi cobaan ini. Dia tidak ingin melihat saya menangis dan cengeng didepannya, untuk kemudian menemaninya, menguatkannya, melewati sakit yang kini ia derita.

Saya membelai lembut rambut Rizky dengan tangan gemetar. Mata jernih Rizky menatap saya dengan tajam. Saya lalu menggenggam erat jemari tangan kanannya. Mengalirkan kekuatan dan keyakinan. Rizky balas meremas jemari saya seakan memberi isyarat, “Saya akan kuat Papa. Saya pasti kuat”.

Malam harinya, usai sholat disamping pembaringan Rizky, saya memanjatkan doa kepada Allah SWT. Musibah yang kami sekeluarga alami saat ini, merupakan sebuah teguran sekaligus manifestasi cintaNya pada kami. Saya berjanji pada diri sendiri untuk menghadapi musibah ini dengan tegar dan tawakkal serta merangkul anak dan istri saya melewatinya bersama-sama penuh ketabahan dan keikhlasan. Saya memohon kepada Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang untuk membekali saya dan keluarga kekuatan menghadapi cobaan berat ini sekaligus doa kesembuhan buat ananda tercinta, Rizky.

Dalam keheningan kamar 314, saya mengecup kening Rizky yang sudah tertidur lelap. Dada saya disesaki keharuan. Mendadak Rizky terbangun, lalu kemudian menatap saya dan berkata lembut, “Papa, jangan menangis!”.

Saya menggeleng pelan.

“Papa tidak menangis, nak. Tidurlah..”, saya menyahut lalu mencium pipinya.

Rizky kembali tertidur. Dengan senyum menghias dibibirnya. Senyum paling manis yang pernah saya lihat.

Label:

Rabu, Agustus 15, 2007

STRATEGI JITU MELAMPIASKAN NGIDAM

Sejak Istri saya dinyatakan hamil oleh dokter--setelah penantian kami yang cukup panjang selama 3 tahun--maka sebagai suami yang berbahagia (karena perkasa) telah berhasil "membuahi" istri tercinta, saya begitu bersemangat memanjakan perempuan yang tengah mengandung anak pertama kami itu. Bentuk-bentuk upaya memanjakan itu antara lain, mengubah panggilan dari "Saya-Kamu" menjadi "Papah-Mamah" (dengan tambahan huruf "h" dibelakang yang dilafalkan dengan desahan yang romantis, sedikit erotis).

Tidak hanya itu. Saat saya atau istri memanggil maka kami akan saling memperlihatkan gestur tubuh penuh kemesraan satu sama lain. Jadi misalnya jika istri saya memanggil dengan bibir basah merekah, "Papah, sayangkuh, cintakuh", maka spontan saya menjawab dengan mata dikedap-kedipkan dengan genit seperti Tessy digoda Asmuni dalam lakon komedi Srimulat,"Adah apah Mamah?".

Norak bukan?.

Tapi begitulah cara kami mengekspresikan kasih sayang satu sama lain yang lebur dalam ekstase kebahagiaan kami menyambut kelahiran anak pertama. Saya begitu rela berkorban apapun demi membuat istri saya senang, termasuk tentu saja berusaha membantu melampiaskan perasaan ngidamnya yang kerap mendera tak kenal waktu.

Pada suatu siang ditengah kesibukan saya dikantor, tiba-tiba handphone saya berdering. Dari rumah.

"Papah, lagih ngapain ?"

"Mamah, Papah lagih kerjah. Kenapah Mamah?"

"Nggak. Mamah lagih pengen makan baksoh"

"Makan Baksoh?. Belih ajah yang lewat. Kan' banyak tuh"

"Aiiihh...Papah. Bukan Bakso yang itu yang Mamah mau!"

"Terus, mau yang bagaimanah Mamah? Dimana-mana Bakso kan' sama aja!"

"Papah, Mamah maunya yang seperti Bakso di Perempatan Jalan Kaliyoso dekat rumah di Yogya. Itu baksonya enak banget Papah"

Saya menepuk jidat. Ini pasti bawaan orok nih, saya membatin.

"Iya deh, nanti Papah cariin. Tunggu ajah, nanti Papah bawa ke rumah"

"Makacih Papah. Mamah sayaaaaang deh sama Papah!"

Teleponpun ditutup. Dan sayapun termangu kebingungan. Dimana saya mesti mendapatkan bakso seenak bakso di Kaliyoso ?. Masa' sih saya mesti terbang ke Yogya, beli bakso disana dan kembali lagi ke Jakarta di hari yang sama ?. Tiba-tiba terbersit ide di benak saya. Di daerah Pasar Minggu (ketika itu, kami masih tinggal di rumah kontrakan di Kompleks POMAD Kalibata)kan' banyak Bakso yang lumayan enak.

Maka demikianlah, pulang dari kantor, saya langsung meluncur ke Bakso Titoti di Jalan Raya Pasar Minggu. Dan sebungkus bakso porsi besarpun saya bawa kerumah, demi melampiaskan ngidam istri tersayang. Di pintu depan istri saya menyambut suami tercinta bagai menyongsong pahlawan pulang perang. Setelah cipika-cipiki (cium pipi kiri dan kanan), istri saya langsung membuka bawaan saya.

Tak lama kemudian, terdengar desahan kecewa dari mulutnya.

"Yaaahh..bukan bakso kayak gini Papah!", gerutu istri saya kesal.



"Ini kan' bakso juga sayang. Malah kata orang, bakso paling enak di seantero Pasar Minggu dan sekitarnya. Coba aja dulu sayang," saya mencoba membujuknya.

Istri saya menggeleng kencang. "Papah makan ajah sendiri!. Mamah gak mau!"

Saya menghela nafas panjang. Saya mesti memikirkan strategi yang jitu untuk melampiaskan rasa ngidam istri saya ini. Tentu dengan memakan bakso "tiruan" Kaliyoso "Made in Pasar Minggu" ini.

"Hmm..ngomong-ngomong soal bakso, Mamah mau dengar cerita Papah gak nih?", kata saya dengan suara selembut mungkin. Istri saya hanya diam. Dan sayapun mulai bertutur tak peduli istri saya setuju atau tidak.

Ceritanya begini,


Kisah ini terjadi pada Tahun 1993, saat Papah masih mahasiswa dan tengah melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sebuah Kecamatan di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan. Papah saat itu menjabat sebagai Korcam (Koordinator Kecamatan) yang membawahi 5 Kordes (Koordinator Desa). Usai pertemuan koordinasi tingkat Kabupaten sebelum berangkat ke wilayah kerja masing-masing, para Koordinator mampir sebentar di Warung Bakso di ibukota Kabupaten. Kami semua menyantap bakso dengan lahap. Soalnya, waktu itu kami berfikir, kalau sudah tinggal di desa terpencil nanti, bakalan susah makan bakso.

Singkat cerita, Papah menempati pos baru di desa yang berjarak kurang lebih 10 km dari ibukota kabupaten. Papah tinggal bersama-sama 5 orang kawan lainnya yang datang dari berbagai Fakultas di UNHAS. Keesokan harinya, Papah didatangi oleh seorang Kordes (Koordinator Desa) yang menumpang sepeda motor pinjaman kepala desa setempat tempat ia tinggal. Ia mengajukan protes--mungkin lebih tepatnya curhat--pada Papah.


Sampai disini saya melirik istri saya. Ia masih duduk mematung dengan menoleh ke arah lain. Kelihatannya ia mulai menyimak cerita saya.


"Mau dilanjutin nggak ?. Kalau mau, Mamah makan dulu tuh Baksonya, biar sedikit," saya membujuk.

Istri saya menggeleng.

Saya menyerah dan melanjutkan cerita kembali.

Sang Kordes bercerita bahwa desa yang ditempatinya sangat terpencil dan jauh dari peradaban modern. Listrik pun belum masuk kesana. Alkisah, pada malam harinya, sepulang makan bakso bersama kami, mendadak ia sakit perut dan ingin buang air besar. Rupanya ia terlalu banyak makan sambal. Sang Kordes lalu mengajukan niatnya ini kepada tuan rumah, si kepala desa setempat.


Tak disangka, si kepala desa (Kades) malah mengajak sang Kordes kebelakang. Ia lalu memberikan sang kordes sebuah cangkul dan ember berisi air dengan gayung kecil didalamnya. Sang Kordes keheranan. "Ini buat apa, pak?" tanyanya. Pak Kades tidak menjawab malah menunjuk ke halaman belakang rumahnya yang gelap gulita.

"Kamu buang hajat disana. Di kebun belakang. Jangan lupa bawa sarung," kata si Kades akhirnya. Ia lalu pergi tanpa sempat menjelaskan lebih lanjut maksud ucapannya pada sang Kordes. Untunglah, dengan kecerdasan intelektual mahasiswa tingkat akhir, sang kordes bisa menganalisa maksud Pak Kades. Ternyata, karena di desa tersebut tidak ada Kloset/WC maka warga disana buang hajat di kebun belakang dengan menguburnya.
Setelah mengambil sarung, sang kordes pun melanjutkan menuntaskan hajat. Dasar "anak kota" untuk menemaninya sendiri dikeheningan malam, ia membawa Walkman miliknya tentu saja bersama perbekalan penting lainnya yaitu, Sarung, Cangkul dan seember air. Papah membayangkan betapa berat penderitaan sang Kordes. Sudah begitu sengsara menahan hajat, kini ia pun harus mencangkul dan menggali tanah tempat "si hajat" itu disemayamkan.

Saya menirukan gaya Pak Kordes mencangkul tanah dengan ekspresi yang begitu menyedihkan, seperti lelaki yang baru diusir mertua. Terlihat istri saya sudah mulai tertarik. Ia tersenyum-senyum sendiri. Ketika saya melirik ke meja, ternyata mangkuk bakso sudah berkurang setengah. Bagus!

Sang Kordes lalu mengambil posisi jongkok dengan sarung mengerudungi kepala, tepat diatas "lubang persemayaman hajat"-nya. Cangkulnya ia letakkan disamping kirinya dan disamping kanannya adalah ember berisi air secukupnya. Suasana begitu senyap saat itu. Juga sangat gelap. Ia lalu menyetel Walkmannya untuk mengusir rasa takut yang mendera. Sesaat kemudian sang Kordes terbuai dalam kesyahduan.

Istri saya tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan saya beraksi menirukan gaya sang Kordes menunaikan hajat. Tentu dengan berjongkok sembari kepala diangguk-anggukan mengikuti irama musik dari Walkmannya. Saya melirik kembali ke mangkuk bakso diatas meja. Wah..sudah habis!. Licin tandas!. Bagus!.

Tiba-tiba tak disangka-sangka dari arah belakangnya terdengar gonggongan anjing. Menuju kearahnya. Begitu cepat. Sang Kordes terkejut dan lari terbirit-birit. Sarung diangkatnya dan tanpa peduli pada hajat yang belum selesai dilaksanakan, ia mengambil langkah seribu dan lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Di belakangnya seekor anjing kampung mengejarnya disertai gonggongan keras. Anjing itu mencoba menggigit ujung sarung sang kordes yang berkibar-kibar. Rupanya anjing tersebut tertarik mendengar suara lirih lagu dari walkman yang diputar Sang Kordes yang akhirnya bisa menyelamatkan diri dengan memanjat pohon. Bugil pinggang kebawah. Sarung bersama sebagian sisa "hajat"-nya tertinggal dibawah pohon.

Tawa istri saya meledak kencang. Memenuhi ruang keluarga dirumah kontrakan kami. Ia semakin geli menyaksikan saya menirukan aksi memilukan sang kordes yang ketakutan digigit anjing diatas pohon. Strategi saya berhasil!. Istri saya akhirnya bisa melampiaskan ngidamnya memakan bakso.

Dua hari kemudian, istri saya menelepon saya lagi.

"Papah, beliin bakso lagi ya...tapi.."


"Beres Mamah, tapi apa ?"

"Ceritain lagi dong, sambil makan bakso..."




Label:

Selasa, Agustus 14, 2007

LELAKI YANG SELALU MENCATAT KENANGAN


“Jangan lupa kirimkan Papa buku diary kosong yang baru untuk tahun depan ya, Nak”

Kalimat itu kerap diucapkan oleh ayahanda tercinta saya, Karim Van Gobel, setiap akhir tahun menjelang. Hanya sebuah Buku Diary Baru Kosong. Dan saya, dengan semangat membuncah, akan segera berangkat ke Toko Buku mencari pesanan rutin akhir tahun ayah saya itu. Bagi saya, menganugerahkan sebuah buku diary baru kepada ayah saya—tiap akhir tahun—merupakan sebuah kehormatan tersendiri yang begitu besar dan berharga. Sebuah rutinitas yang senantiasa saya lakoni dengan riang, sejak merantau ke Jakarta tahun 1995.

Ayah saya adalah lelaki yang begitu tekun mencatat kenangan, dalam serpih terkecil sekalipun, di setiap rekam jejak perjalanan hidupnya dalam buku diary. Konon, beliau sudah memulai menulis diary sejak saya lahir (hal yang kemudian menginspirasi saya untuk menulis blog anak pertama saya, Rizky, sejak ia lahir tahun 2002).

Dapat dibayangkan sudah sekitar 37 buku diary yang beliau tulis hingga saat ini (saya lahir tahun 1970). Dan lelaki kelahiran Gorontalo, 12 Desember 1939 ini tetap setia mencatat kenangan yang datang melintas, menggoreskan kesan dan meninggalkan jejak di hati. Buku-buku diary beliau tersimpan rapi di lemari kamar, meski beberapa diantaranya sudah lusuh dan kumal digerus zaman. Saya membayangkan, kelak dikemudian hari jika saya berkeinginan untuk membuat buku otobiografi maka saya tidak perlu repot-repot mencari referensi karena setiap kenangan tentang saya dan keluarga sudah terdokumentasi dengan baik.

Saya sudah hapal model buku diary seperti apa yang beliau inginkan. Pada tahun 1996, saya pernah salah mengirim buku diary. Ketika itu, untuk lebih menyenangkan hati ayah yang juga adalah pensiunan pegawai negeri Departemen Pertanian ini, saya membelikan sebuah Executive Planner and Diary yang mewah, lengkap dengan pembungkus kulit berwarna coklat. Beberapa saat kemudian, ayah saya menelepon dan memarahi saya. Ternyata bukan seperti itu yang beliau inginkan.

“Cari yang sederhana aja nak. Yang penting ada tanggal dibagian atas serta bagian kosong yang cukup lapang untuk menulis di tiap lembar. Pasti kamu tahu seperti apa modelnya. Pokoknya seperti yang Papa punya dulu dirumah. Tidak usah yang mahal-mahal.!”, ucap ayah saya di ujung telepon.

Saya mengangguk mafhum. Dan saat itu juga saya langsung berangkat ke toko buku dan membelikan buku diary yang sama seperti yang senantiasa saya lihat ketika masih di Makassar dulu. Agar memudahkan identifikasi, saya selalu membelikan buku diary yang berbeda-beda warna sampulnya setiap tahun, namun dengan model yang sama.

Sebenarnya, ayah saya tidak pernah melarang saya untuk “mengintip” apa isi buku diary-nya. Tapi saya menyadari bahwa bagaimanapun juga, membaca catatan harian seseorang—terlebih lagi milik ayah sendiri—adalah melanggar hak pribadi penulisnya. Saya sangat menghormati itu. Selama bertahun-tahun.

Sampai akhirnya, ketika ayah dan bunda saya datang mengunjungi kami sekeluarga dalam rangka akikah anak saya Rizky di tahun 2002, saya mendapatkan untuk kesempatan pertama kalinya membaca diary ayah. Waktu itu, di penghujung malam, sembari menonton TV, saya menemani ayah menuliskan diary-nya. Saya memperlihatkan mimik yang sangat antusias untuk “mengintip” apa yang sedang dituliskan ayah saya dilembaran bukunya.

“Kenapa ? Mau baca ?” tanya ayah saya dengan pandangan menyelidik dari balik kacamata minusnya.

Saya terperangah kaget dan buru-buru menggeleng.

“Tidak apa-apa. Ini, baca aja, nak,” lanjut beliau sembari mengangsurkan buku diarynya pada saya yang sangat terkejut sekaligus senang bukan main mendapat kehormatan membaca buku diary ayah saya.

Ternyata isinya tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Dalam fikiran saya, ayah menulis diary dengan uraian-uraian yang panjang, deskriptif , emosional, kadang-kadang narsis plus opini-opini singkat tentang sebuah hal, seperti layaknya gaya penulisan gadis-gadis ABG di buku hariannya. Tapi ternyata sangat berbeda.
Isi catatan harian beliau berupa tulisan-tulisan singkat yang merangkum isi kegiatan hari ini. Hanya berupa lima sampai sepuluh kalimat. Setiap peristiwa dalam hari yang sama dirangkum dalam tulisan singkat secara berurutan. Sesuai waktu kejadiannya. Saya membuka-buka lembaran sebelumnya. Dan isinya tetap sama model penulisannya.

“Papa tidak pintar menulis seperti kamu, nak. Jadi kalau kamu mengharapkan tulisan yang panjang-panjang di diary Papa, maka pasti tidak akan kamu dapatkan. Papa hanya mencatat peristiwa demi peristiwa yang terjadi setiap hari. Secara singkat tapi padat makna,” kata ayah saya menjelaskan seperti telah mengetahui apa yang tengah saya fikirkan ketika itu.

Saya mengerti.

Betapapun bersahajanya ayah mencatat kejadian di buku hariannya, saya melihatnya sebagai upaya beliau mengabadikan kenangan yang telah terjadi. Secara konsisten selama bertahun-tahun. Dan kalimat-kalimat singkat yang beliau tulis di buku diary-nya mendadak menjelma menjadi sebuah interpretasi nyata di benak saya. Seperti sebuah video yang di-“rewind” ulang dan menyajikan kembali peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi.

“Beginilah salah satu cara Papa menghargai nikmat hidup yang sudah dikaruniakan Allah SWT kepada kita, Nak. Mencatatnya, sesederhana apapun. Dan menyimpannya sebagai bagian dari kenangan hidup yang tak terpisahkan juga sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada sang pencipta karena masih diberikan nafas untuk melanjutkan hidup,” tambah ayah saya lagi. Tegar dan penuh keyakinan.

Mata saya berkaca-kaca.

Saya bangga memiliki ayah seperti beliau, lelaki yang selalu mencatat kenangan.

Label:

Sabtu, Agustus 11, 2007

DESPERATE SEEKING CHILD - AN EPIC STORY

Di pucuk alam, saya menyaksikan kedua anak saya, Alya dan Rizky, tertidur pulas. Putra tertua saya. Rizky, meringkuk bersama guling disampingnya. Dengkur halus terdengar dari bibirnya yang mungil. Tak jauh dari situ, adiknya, Alya terlihat sedang mendekap erat leher ibunya. Salah satu kaki anak bungsu saya tersebut berada diatas paha bundanya yang juga sedang "berlayar ke alam mimpi" sembari memeluk kedua buah hatinya itu.

Saya tersenyum.


Betapa cepat waktu berputar. Ingatan saya mendadak terlontar pada suatu petang yang muram akhir tahun 2001. Istri saya duduk dengan wajah murung di atas kursi rotan panjang pada ruang tamu rumah kontrakan kami di Taman Aster Cibitung.


Merenung lama. Kesedihan terlihat menggayut diwajahnya.


Saya sudah tahu apa maksudnya.


Setelah resmi menjadi istri saya bulan April dua tahun sebelumnya, saya seperti dibekali sebuah karunia magis untuk menebak apa sesungguhnya yang istri saya fikirkan saat itu. Karunia yang sebenarnya saya tidak tahu dari mana asal muasalnya. Apakah itu karena hubungan biologis kami yang begitu intens yang menyebabkan simpul-simpul syaraf tergetar antar kami dan mengalirkan "sixth sense" atau karunia itu merupakan warisan genetis dari keluarga saya (siapa tahu kan'saya memiliki kemampuan ala Deddy Corbuzier atau David Copperfield tanpa saya sadari ?) atau bisa jadi sebab terakhir : saya begitu sering menyaksikannya merenung pilu seperti ini.


"Pasti kamu resah soal anak lagi ya?," saya "menembak" langsung ke titik utama pembicaran. Membuyarkan lamunan..


Istri saya tidak menjawab. Ia hanya menggigit bibir. Tiba-tiba air mata menggenang dipelupuk mata dan perlahan membasahi pipinya. Saya trenyuh dan duduk disamping perempuan kelahiran Yogya yang sangat saya cintai itu seraya meraih kepalanya didada saya. Membuatnya sedikit lebih nyaman berbagi kegundahannya bersama saya.


"Baru dua tahun kok. Anggap aja kita masih pacaran," saya menggumam getir mencoba menghiburnya. Dalam sanubari, saya sebenarnya merasakan kegundahan serupa. Hati saya ikut teriris bila menyadari fakta bahwa di tahun kedua usia pernikahan kami, Allah SWT belum mempercayakan amanah seorang anakpun kepada kami berdua. Tapi saya berusaha tegar dan tak larut dalam kepedihan itu.


"Sudah dua tahun…masa' mau pacaran terus?", tukas istri saya dengan nada tinggi.


"Paling tidak," saya mencoba berkilah,"kita coba ambil hikmahnya,. Allah SWT justru begitu menyayangi kita sehingga belum memberikan karunia itu karena kondisi perekonomian kita yang mungkin kurang memungkinkan mengasuh dan membesarkan anak. Atau bisa juga.."


"Tapi bagaimana dengan keluarga-keluarga yang miskin ?., Mereka tetap dikaruniai anak tidak hanya satu tapi lebih dari itu!. Padahal kemampuan perekonomian mereka masih jauh dibawah dari kita!" potong istri saya sengit. Matanya tajam menyala Ada kilat putus asa membayang disana.


"Jangan pernah mempertanyakan itu. Apakah nasib yang kita alami saat ini, adil atau tidak. Semua adalah menjadi rahasia Allah SWT. Boleh saja secara finansil kita lebih mapan dari mereka. Tapi secara emosional, siapa tahu justru mereka yang lebih tangguh dan lebih kuat dari kita," saya memberikan argumen dengan suara selembut mungkin.


Istri saya mendengus kesal. Ia bangkit dari tempat duduk, bergegas masuk ke kamar kami. Saya tahu ia pasti menangis disana. Selalu begitu. Selalu.



Saya menghela nafas panjang. Betapa berat cobaan yang kami hadapi.


Setiap usai sholat berjamaah, tak henti-hentinya kami memanjatkan doa agar Allah SWT menganugerahkan kami keturunan. Air mata kami berdua berlinang membasahi pipi disela-sela lirih suara doa kami. Setelah itu kami berpelukan erat, membagi kesedihan dan beban yang menghimpit hati satu sama lain. Saya membelai kepala istri saya yang masih mengenakan mukena. Baju koko saya basah oleh airmatanya yang terus berderai. Demikian pula selalu kami lakukan ketika usai sholat tahajjud malam. Dalam keheningan, kami berdua seakan larut dalam khusyu' doa penuh tawadhu' agar anak yang kami impikan dapat segera hadir, mengisi hari-hari kami dengan tawa dan canda riang.


Pada sebuah kesempatan menonton televisi bersama, mendadak tangis istri saya meledak. Di tayangan yang sedang kami saksikan bersama tersebut ditampilkan sosok wanita yang masih berusia muda dan duduk di bangku SMA yang melakukan aborsi bersama sang pacar. Ia sedang diinterogasi petugas kepolisian saat kepergok akan mengubur bayi hasil hubungan gelapnya di kebun belakang rumahnya.


Sungguh hati kami berdua sangat remuk dan terluka menyaksikannya. Ketika kami sangat mendambakan kehadiran anak, ada pasangan—yang tidak resmi dalam sebuah ikatan pernikahan—dengan keji membunuh dan membuang jabang bayi hasil hubungan intim mereka. Istri saya sangat geram. Tak henti-hentinya ia mengutuk perbuatan perempuan muda dan pasangannya itu.


Pada hakekatnya jika dirunut dari sejarah genetis kami berdua dan garis keturunan masing-masing tidak ada masalah soal "produksi" anak. Saya adalah anak pertama dari empat bersaudara sementara istri saya adalah anak keempat dari enam bersaudara. Berdasarkan fakta tersebut, saya dan istri berfikir sesungguhnya peluang kami memperoleh keturunan sangatlah besar. Tapi akhirnya semuanya terpulang kembali pada kehendak Allah SWT, sang khalik yang Maha Kuasa atas nasib kami.


Sebenarnya sejak tahun pertama pernikahan, kami senantiasa melaksanakan ikhtiar sebaik mungkin agar bisa memperoleh keturunan. Tidak hanya secara medis. Tapi juga secara tradisional. Termasuk pula menuruti sejumlah saran dari keluarga dan handai tolan yang ikut prihatin atas "kemalangan" yang menimpa kami. Seorang kawan pernah menyarankan untuk meminum kelapa hijau muda yang sebelumnya sudah dibuka lalu di-"embun"-kan semalaman dihalaman depan rumah. Kegiatan itu lalu kami lakukan secara intens, setiap hari, selama seminggu berturut-turut hingga saya sempat merasa kembung gara-gara kebanyakan minum air kelapa. Dilain pihak istri saya sempat meminum berbagai macam ramuan herbal yang konon dapat menyuburkan rahim dan memperbesar peluang kehamilan.

Yang paling berkesan buat saya adalah, sayur toge!. Saya tak tahu apa yang menyebabkan istri saya begitu tersihir oleh omongan sejumlah orang bahwa toge memiliki khasiat ampuh untuk mempersubur dan mengaktifkan gerak sperma pria. Hampir tiap hari saya mesti makan toge dengan berbagai macam modifikasi menu masakan mulai dari tahu goreng isi Toge, gado-gado toge, pecel toge, tumis toge, Bakso toge, Jus Toge, Roti Bakar isi toge, Toge Mayonaise, Toge oseng-oseng, Gudeg Toge,Toge goreng mentega, dan lain-lain. Terus terang saya mengakui kehebatan istri saya meramu masakan dengan tetap menyertakan si toge sebagai andalan utamanya. Pada awalnya memang saya sempat protes, saat pulang kantor istri saya menyajikan sayur tumis toge diatas meja makan, menu serupa yang dimasak terus menerus sepanjang hari selama seminggu berturut-turut. Saat melihat sayur tumis toge itu diatas meja saya langsung berkomentar,"Yaaa….toge lagi…..toge lagi!".


Istri saya mesam-mesem dan saya akhirnya menyantap menu rutin itu dengan memantapkan tekad membara dalam hati sebagai wujud misi suci saya : menjalankan tugas sebagai pejantan tangguh!. Rupanya istri saya paham "bahasa tersirat" yang saya nyatakan. Dan keesokan harinya, saya menemukan menu-menu masakan bervariasi dengan tentu saja tetap menyertakan toge sebagai bahan utama. Saya sempat membayangkan betapa ribuan sperma-sperma yang saya miliki memiliki energi extra berkat stimulasi luar biasa dari si Toge-Joss. Bisa jadi diantara mereka saling bercakap begini :


"Busyeet nih..ekor gue udah pake tenaga jet "made in toge" buat nembus sel telor. Dijamin gue bisa meluncur 500 km/jam," kata si sperma bernama Tukul pada kawannya sembari mengacungkan ekornya (emangnya sperma punya jempol?).


"Sama Kul, gue udah coba kemarin. Mantap banget!. Wuss..wuss..wuss..gue larinya cepat banget. Emang abang kita ini sangat tahu kebutuhan kite. Semoga aja dia terus-terusan makan toge," sahut kawannya yang bernama Pepi.


Tapi..strategi menyantap toge joss secara rutin tetap tidak berhasil.


Istri saya belum hamil juga.


Kami tetap tidak putus asa.


Strategi lain adalah mencoba berbagai posisi-posisi berhubungan intim yang memiliki kemungkinan besar untuk memperoleh anak. Hasilnya?. Bukan main!. Badan saya dan istri jadi pegal-pegal akibat berakrobat ria dengan berbagai posisi-posisi aneh. Tukang urut langganan sayapun jadi "panen" order. Mendadak pula si tukang urut saya yang memiliki 5 orang anak dari dua istri itupun menjadi teman curhat saya dalam soal menggali kiat-kiat jitu memperoleh anak. Maka mengalirlah sejumlah advis-advis professional dari mulutnya, dimana jika dijadikan disertasi S-3 di UTPI (Universitas Tukang Pijat Indonesia) dapat diberi judul : Telaah Kritis atas Posisi Seksual yang efektif dalam menghasilkan anak dihubungkan dengan Titik-Titik pengurutan potensil pada tubuh sebagai sebuah upaya progresif antisipatif untuk membentuk masyarakat Madani Indonesia dimasa depan dan usaha intensif mencapai Millenium Development Goal -- Sebuah studi kasus komprehensif dan kajian reflektif atas pasangan Amril-Sri di usia dua tahun pernikahannya (weleh..weleh..ribet banget ya?).


Kami juga telah melakukan pemeriksaan medis yang dilaksanakan di rumah sakit.Mitra Keluarga Bekasi. Semula hanya istri saya saja yang diperiksa. Hasilnya : tidak ada masalah fisik secara signifikan pada istri saya untuk menghasilkan anak. Semuanya normal. Istri saya hanya diberi obat "penyubur"kandungan.


Atas saran dokter yang memeriksa istri, sayapun ikut menjalani pemeriksaan. Semula saya menolak, karena selain saya menganggap—tentu secara sepihak-- sejauh ini "baik-baik saja" juga saya sungkan menjalani pemeriksaan yang pasti melibatkan alat vital yang saya miliki. Namun istri saya terus mendesak, saya akhirnya menyerah. Ini demi kami juga. Demi anak yang sudah lama kami dambakan. Hasilnya juga melegakan. Saya normal. Artinya, secara fisik, saya memiliki peluang besar untuk memiliki anak.


Kami berdua sempat putus harapan. Sampai kemudian, kakak ipar saya di Tanjung Priok menyarankan kami berdua untuk urut pada seorang nenek yang konon sudah terbukti kemampuan jari-jari ampuhnya membuka peluang bagi pasangan suami istri untuk mendapatkan anak. Saya sempat merasa itu bukan merupakan hal yang perlu lagi. Bukan apa-apa. Setelah sekian banyak ikhtiar yang sudah kami lakukan dan belum mendapatkan hasil, maka saya kira sudah saatnya kami tiba pada taraf pasrah dan tinggal menunggu takdir yang sudah ditentukan Allah SWT kepada kami. Apapun yang menjadi kehendakNya kelak, kami akan menerimanya dengan hati lapang.


Tapi istri saya begitu bersemangat. Ia lalu mengajak saya bersama-sama ke rumah kakak perempuannya di Tanjung Priok untuk kemudian menemui si nenek sakti mandraguna tadi. Dengan diantar oleh Mbak Surat, kakak perempuan istri saya, kami lalu menuju rumah si nenek.


Tiba disana kami disambut dengan hangat. Nenek berdarah betawi asli yang berusia kurang lebih 70-an tahun itu masih terlihat gesit diusianya yang kian renta. Pada awalnya istri saya yang dipijat terlebih dulu dan saya menunggu diluar bersama suami Mbak Surat. Sekitar setengah jam kemudian, saya dipanggil kedalam oleh istri saya.


"Sekarang giliran elu!" kata si nenek dengan sorot mata tajam "memaku" tubuh saya yang terkesima.


"Kok saya, Nek?. Nggak usahlah, istri saya kan' udah tuh!" saya mencoba protes. Terbayang dalam benak saya jari-jari keriput si nenek menjelajahi perut dan wilayah "rawan" saya dengan lincah. Sungguh menggelikan.


Juga mengerikan.


Si Nenek menggeleng tegas.


"Elu juga kudu dipijet!. Jangan mau enak-enakan aja, lu!. Udah, elu buka tuh baju dan baring telentang disini!" perintah si nenek galak seraya menunjuk dipan didepannya.


Saya memandang istri dan kakaknya dengan wajah memelas mohon pengertian dan rasa solidaritas mereka. Tapi mereka berdua diam dan balas menatap saya dengan penuh keyakinan.


"Udahlah, dik. Ikuti aja apa maunya. Paling Cuma dicek aja. Nggak lama kok," ujar Kakak Ipar saya menenangkan.


"Betul, apalagi kata Nenek, rahimku nggak masalah kok. Pokoknya normal. Sekarang kamu juga mesti diperiksa, siapa tahu justru masalahnya ada sama kamu,," imbuh istri saya.


"Tapi kan'….", saya masih mencoba protes dengan argumentasi pamungkas.


"Tapi apa?" tanya istri saya memotong.


Saya mendekat dan membisikkan sesuatu ditelinga istri saya dengan lirih.


"Bukan muhrimnya!"


Istri saya tertawa berderai dan balas membisiki saya.


"Ingat sayang, ini demi bakal anak kita. Just do it, my man!"


Saya menyerah.


Kata-kata "demi bakal anak kita" begitu ampuh menggugah nurani saya paling dalam, menepis kengerian digerayangi jari-jari keriput yang terbayang akan saya alami tidak lama lagi.


"Eh..elu kok diem aja, udah..buka baju dan baring telentang sono!"teriak si Nenek garang


Saya menghela nafas panjang. Mengumpulkan keberanian yang masih tersisa. Kakak Ipar saya sudah menyusul suaminya diluar. Di bilik ini hanya saya, istri saya dan si nenek eksekutor itu.


Saya sudah telanjang dada. Kemeja dan kaos singlet saya sudah saya copot dan dipegang oleh istri saya.


"Celana juga. Sisain kolor elu doang!. Pake sarung tuh kalo malu ama gue yang udah bangkotan kayak gene!,"tegas si nenek lagi seraya menunjuk sarung butut miliknya untuk dipakai.


"Ko…ko..kolor doang ? Ini yang mau dipijit apanya sih, Nek " saya tergagap. Istri saya terlihat menahan tawa.


"Pake tanya-tanya lagi. Pokoknya elu tinggal diam dan telentang. Jangan banyak bacot. Cepetan !. Pake tuh sarung!" seru si Nenek kencang. Saya langsung merinding.


Akhirnya saudara-saudara, sayapun pasrah tidur telentang dan mencoba sensasi dipijat dengan jari-jari keriput (tapi ampuh) milik si Nenek dengan mata terkatup.


Mulanya sekitar dada dan perut saya yang dipijat. Saya mengerang menahan rasa geli yang melanda. Istri saya duduk disamping kepala saya sembari terus-terusan memandang penuh cinta yang tulus seakan-akan berkata : "Come on my man, ini demi bakal anak kita!". Dan demi itu pula saya mencoba kuat dan tetap bertahan. Seraya menggigit bibir bawah, saya memejamkan mata dan membayangkan tampaknya cara pijat ala nenek ini bisa menjadi salah satu alternatif paling manusiawi dalam menjalankan eksekusi hukuman mati bagi seorang terpidana.


Sampai kemudian, saat jari-jari ampuh si nenek mendekati "daerah rawan", saya sudah tak tahan. Rasa geli sudah mencapai ke ubun-ubun. Dan…


JDUGGG…!!!


Tendangan saya keras menghantam lutut si nenek dan membuatnya terjengkang terguling-guling kebelakang.


"BUJUBUNE!!", seru si Nenek itu kencang.


Istri saya kaget dan tergopoh-gopoh menolong si nenek yang berusaha bangkit.


Uluran tangan istri saya ditepisnya dengan kasar. Nenek tersebut lalu datang kearah saya yang saat itu sudah duduk berjongkok dan meringkuk dengan sarung menutupi badan. Saya benar-benar shock. Sangat shock!.


Matanya menyala. Sumpah serapahpun menyembur deras dari bibir nenek itu.


"Kurang ajar lu, ye!. Gue udah capek-capek nolongin elu pade, malah dikasih tendangan. Emangnye gue bola?. Anak gue sendiri juga pasien gue yang laen kagak ada yang berani dan tega nendang gue. Elu kagak liat ape, gue udah bangkotan kayak gini?. Kalo gue koit gara-gara elu sepak, elu mau tanggung jawab?"


"Maaf, Nek..tadi saya kegelian waktu diurut, jadi spontan aja saya…", dengan suara lirih dan wajah pucat saya memohon ampun dari si nenek, namun langsung dipotong dengan suara menggelegar dari si nenek.


"UDAH! UDAH!..Bubar aja!. Gue udah kagak demen lagi ngurut elu yang doyan nyepak nenek-nenek kayak gue. Kalo gue lanjutin, bisa mampus gue. Pulang aja dan jangan pernah coba-coba kesini lagi!"


Saya dan istri mengangguk pelan. Rasa bersalah menggelayuti batin kami saat itu.


Setelah mengucapkan maaf berkali-kali dan tambahan tips urut, kami pun pamit dan pergi dari rumah sang nenek. Sepanjang jalan saya meringis, pinggul saya habis dicubiti dengan gemas oleh istri saya.


Setelah kejadian itu, kami tetap tidak kapok, ikhtiar memperoleh anak terus kami lakukan meski kemudian saya mengajukan syarat tambahan ke istri, bahwa—berdasarkan pengalaman sebelumnya—saya tidak akan pernah mau diurut. Istri saya cukup mengerti syarat tersebut selain untuk menghindari jatuhnya korban nenek-nenek yang kena tendangan juga jangan sampai saya, suami tercintanya yang ganteng ini, masuk bui gara-gara diadukan oleh Komisi Nasional Perlindungan Nenek (emang ada ya?) karena tidak berperi-kenenek-an .


Atas rekomendasi saudara sepupu istri saya, kami mencoba urut di rumah Mak Wari (sudah almarhumah, wafat tahun 2005) di daerah Gang Camat Lenteng Agung Jakarta Selatan. Ketika itu nenek yang telah berusia mendekati 100 tahun tersebut memang sudah punya "nama" sebagai dukun pijat yang memilki kemampuan membantu pasangan yang sulit memperoleh anak. Atas analisa "tradisional"-nya yang mumpuni, Mak Wari menyatakan rahim istri saya turun dan akan dilakukan "rehabilitasi" setelah 4-5 kali kunjungan kesana.


Pada kunjungan kelima, Mak Wari yang berdarah asli Betawi itu berkata kepada saya dan istri,"Insya Allah bakal jadi deh anak kalian. Berdoa aje yang banyak. Kalau kagak salah, anak pertama elu itu Laki-laki dan yang kedua nanti perempuan".


Saya merasakan istri saya menggenggam jemari saya begitu erat. Bibirnya tersenyum penuh arti. Saya masih ingat betul saat itu bulan Februari 2002, memasuki tahun ketiga usia pernikahan kami.


Pada sekitar awal Maret 2002, sepulang kantor saya terheran-heran menyaksikan istri saya tersenyum-senyum sendiri.Tampaknya ia memegang sesuatu dibalik punggungnya. Saya tidak mampu menerkanya itu apa. Saya lalu duduk di kursi tamu rumah kontrakan kami di Kompleks POMAD Kalibata (sejak pindah bekerja di PT.Inti Jatam Pura Agustus 2001, kami sekeluarga "hijrah" dari Taman Aster Cibitung ke rumah kontrakan baru).


"Kenapa sih kamu ketawa-ketawa, senyam-senyum sendiri?", tanya saya sembari membuka sepatu.


Istri saya tak menjawab. Ia mengangsurkan sesuatu benda ke hadapan saya. Sebuah alat uji test kehamilan.


Saya mendelik heran, ini apa maksudnya?.


"Lihat aja deh. Tapi baca dulu petunjuknya di sampul depannya baru lihat indikatornya," kata istri saya tenang dengan senyum manis yang masih melekat dibibirnya.


Tak berapa lama kemudian, mata saya melotot dan hati saya membuncah. Bergemuruh.


POSITIF!. Istri saya positif hamil!.


Saya langsung berjingkrak-jingkrak dan menari kegirangan.


Tak peduli sedikitpun pada tetangga sekeliling dengan heboh saya mengajak istri saya berdansa di ruang tamu sempit kontrakan kami. Saya merasa bahagia. Bahagia luar biasa. Akhirnya apa yang kami impikan selama ini terwujud sudah.


Malam harinya seusai menyantap sate kambing Haji Thohir Pasar Minggu, sebagai bentuk "perayaan kecil" atas kehamilan istri saya, kami berdua mengucap syukur tak terhingga kepada Allah SWT yang akhirnya memberikan kami kepercayaan untuk dapat memperoleh anak. Usai sholat Tahajjud, kami berdua menangis dalam keheningan malam. Saya membelai kepala istri saya yang masih mengenakan mukena. Baju koko saya basah oleh airmatanya yang terus berderai. Sama seperti waktu-waktu sebelumnya, namun kali ini, tangis saya dan istri saya adalah tangis kebahagiaan.



Akhirnya, tanggal 25 November 2002, anak pertama kami, Muhammad Rizky Aulia Gobel lahir kedunia dengan operasi Caesar, menyusul kemudian adiknya, Alya Dwi Astari Gobel lahir Tanggal 11 November 2004 juga keluar lewat "jendela". Keduanya menatap dunia untuk pertama kali dalam Bulan suci Ramadhan.


Saya tersenyum.


Dan dipucuk malam, usai sujud panjang saya selepas sholat Tahajjud, pelupuk mata saya basah oleh air mata.Betapa kami sangat bersyukur atas karunia dan berkah tak putus-putus yang dianugerahkan Allah SWT kepada kami berupa amanah yang sungguh tak ternilai harganya : Rizky dan Alya. Dalam hati saya bertekad untuk menjaga amanah berharga ini dengan sebaik-baiknya. Perjuangan saya sebagai calon ayah—setelah menunggu 3 tahun—mungkin sudah usai, namun perjuangan saya sebagai ayah akan terus berlanjut.


Catatan :


Posting ini dibuat dari kamar 207 di Rumah Sakit Harapan International Cikarang, saat menjagai anak saya, Rizky yang tengah dirawat inap karena sakit Typhus

Label:

Selasa, Juli 24, 2007

SARUNGAN ? SIAPA TAKUT ?

Sekitar tahun 1996 (11 tahun silam, tanggal tepatnya saya lupa), ketika itu saya masih kost di daerah Klender-Jakarta Timur dan bekerja sebagai salah seorang karyawan di PT.KADERA-AR INDONESIA Pulogadung.

Bersama 4 orang kawan (semua lelaki dan berstatus Jojoba atau Jomblo-jomblo bahagia), kami berinisiatif melakukan hal"sableng" yaitu: Nonton Bioskop di Studio 21 di Plaza Klender (sebelum terbakar karena peristiwa Mei 1998) dengan sarung paling bau. Peraturannya gampang. Masing-masing dari kami harus menyiapkan satu sarung paling bulukan yang mereka miliki (paling tidak belum pernah dicuci selama satu bulan terakhir) dan mengenakannya didalam bioskop dengan posisi sarung menutup kepala.

Maka demikianlah, pada Hari-H, kami semua datang ke bioskop dengan dandanan perlente dan rapi (tapi masing2 dari kami menenteng tas plastik berisi sarung). Setelah membeli karcis (filmnya waktu itu adalah Die Hard-3 dibintangi oleh Bruce Willis), kami masuk melalui pintu bioskop. Petugas bioskop sama sekali tidak menaruh curiga. Kami duduk di deretan tengah secara berurutan.

Penonton begitu banyak saat itu, maklumlah film ini termasuk kategori film Box-Office. Ketika Extra-Film diputar kami belum beraksi apa-apa. Tapi hati saya deg-degan juga melakukan aksi norak ini. Seorang kawan yang duduk paling ujung memberi kode untuk membuka tas dan mengeluarkan sarung masing-masing. Maka ketika film utama dimulai, secara serentak kami semua berdiri dan langsung mengibaskan sarung masing-masing sebelum dipakai.

Penonton lain tersentak kaget. Apalagi bau sarung kami--pasukan berani malu-- yang apek bin bulukan langsung menyebar kemana-mana.

Kami berusaha tenang dan memakai sarung tersebut, duduk kembali dengan sarung mengerudungi kepala. Spontan semua penonton disitu tertawa terpingkal-pingkal.

Petugas keamanan bioskop datang menghampiri kami.

"Mas, tolong kalo nonton disini, jangan pake sarung dong," tegur petugas itu.

Seorang kawan saya yang bertubuh tinggi besar, langsung menukas ketus, "Pak, kami kan' bayar. Terserah kami mau nonton pake gaya apapun, yang penting kami sudah menunaikan kewajiban membayar karcis"

Penonton dibelakang kami ikut mendukung.

"Biarin aja Pak. Mereka lucu-lucu," kata seorang ibu dibelakang kami.

Si petugas keamanan itu akhirnya pergi. Kami meneruskan menonton film sampai selesai. Terus terang, saat itu saya rasanya nyaris pingsan membaui sarung sendiri yang apek (ada bekas ngompolnya lagi, hehehe.. ). Belum lagi sarung kawan-kawan yang lain yang tidak kalah baunya.

Ketika film selesai, kami justru jadi tontonan. Beberapa diantara penonton saling berbisik satu sama lain sambil menunjuk kearah kami, lalu ketawa cekikikan. Salah seorang diantaranya datang menghampiri dan menyalami kami semua, sembari berkata,"Kalian orang-orang kampung yang hebat!". Kami menyambut jabat tangan itu dengan hangat dan akrab. Rasa malu dan juga bangga bercampur aduk.

Kami berusaha berjalan keluar bioskop setenang mungkin dengan menenteng tas plastik berisi sarung. Seperti tidak terjadi apa-apa. Ini benar2 pengalaman paling "gila" yang pernah saya alami.


Catatan :
Foto diambil dari sini

Label:

Kamis, Juli 19, 2007

NONTON BARENG SEPAKBOLA KORSEL Vs INDONESIA DIATAS BIS

BERBEDA seperti hari-hari biasanya, sepulang dari kantor hari Rabu (18/7), saya begitu memendam harapan dapat bertemu dan akhirnya ikut dengan “shuttle bus” Nomor 121 A jurusan Blok M-Kota Jababeka Cikarang. Dari tiga alternatif angkutan umum dengan rute Blok M menuju ke rumah saya di kawasan Perumahan Cikarang Baru Kota Jababeka, hanya bis ini saja yang menyediakan fasilitas Televisi untuk ditonton oleh para penumpangnya. Meski untuk itu, kompensasinya adalah tarifnya relatif lebih mahal dari dua bis angkutan alternatif lainnya. Kebanyakan para penumpang bis ini adalah pekerja komuter yang bekerja di Jakarta namun berdomisili di Cikarang.

Harapan saya terkabul. Tepat Pukul 17.35, bis 121 A melintas tepat didepan halte bis yang berada didepan Wisma Mulia Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan dimana saya telah menunggu kurang lebih sepuluh menit lamanya. Ketika naik dan duduk dikursi penumpang di baris kelima dari depan, saya sudah merasakan aura histeria yang demikian besar dari kurang lebih 30 orang penumpang menyaksikan tayangan siaran langsung laga sepakbola babak Penyisihan Group D Piala Asia antara Indonesia melawan Korea Selatan. Semua mata tertuju pada Televisi 14 inchi yang dipasang diposisi tengah depan tepat diatas bahu kiri sang supir.

Saya bersyukur, pertandingan itu ternyata baru saja dimulai. “Ini partai hidup mati. Indonesia mesti menang dalam pertandingan ini jika ingin lolos ke babak berikutnya,” gumam seorang lelaki separuh baya yang duduk disamping saya dengan mata tak lepas kearah TV yang kualitas gambarnya sangat jelek dan bergoyang-goyang karena penangkapan sinyal gambar yang pas-pasan dari antene TV darurat di bis tersebut.

Saya manggut-manggut mengiyakan. Bambang Pamungkas dkk yang tergabung dalam Timnas Sepakbola Indonesia memang mesti bekerja ekstra keras memenangkan pertandingan ini terlebih disaksikan oleh kurang lebih seratus ribu penonton pendukungnya di Stadiun Utama Senayan serta Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan istri. Dapat dipastikan pertandingan ini akan berjalan seru dan ngotot karena partai ini sangat menentukan apakah kedua tim ini bisa lolos ke babak selanjutnya atau tidak.

Sebenarnya, ini adalah kali kedua saya menikmati acara “nonton bareng tak sengaja” pertandingan sepak bola Piala Asia diatas shuttle bis Blok M-Kota Jababeka Cikarang. Pada Hari Selasa sore (10/7) saya menjadi peserta nonton bareng laga sepakbola diatas bis antara Indonesia melawan Bahrain. Ada kejadian lucu yang sempat terjadi.

Ketika itu seorang ibu, penggemar rutin acara Infotainment di salah satu TV swasta bersikeras agar acara kegemarannya yang ditayangkan dalam kesempatan tersebut. Sang kondektur bis kebingungan memilih saluran TV terlebih ada desakan sebagian besar penumpang meminta justru tayangan sepakbola yang ditampilkan. Namun sang ibu yang kebetulan duduk tepat dibelakang supir tampaknya lebih mendominasi dan bersikeras agar pilihannya yang ditayangkan.


Seorang bapak yang kira-kira umurnya hampir sama dengan ibu itu maju kedepan dan tampil sebagai “pahlawan” bagi kami semua, para penggila bola. “Bu, Ibu..Plis ya..kalau mau nonton gossip selebriti bisa kapan-kapan dan masih ada tayangan ulangnya. Kalau nonton bola Piala Asia apalagi kalau diadakan di Indonesia itu jarang-jarang lho, bu. Jadi tolong ibu mengalah sedikit, apalagi sekarang Tim Indonesia yang main. Kita semua sebagai sesama bangsa mesti mendukung tim sepakbola kita sendiri,” ujar sang Bapak tadi ke Ibu penggemar Infotainment dengan suara pelan berusaha membujuk si Ibu yang ketika itu melipat tangannya didada dan menoleh angkuh kea rah luar jendela bis.

Saya tertawa geli menyaksikan “aksi teatrikal” itu. Dari arah belakang terdengar teriakan kencang,”Ayoo,,Pak ganti aja!.Pertandingannya udah mulai dari tadi!”. Sang Bapak kemudian meraih remote control ditangan si kondektur yang masih terlihat bingung lalu merubah saluran TV ke pertandingan sepakbola antara Indonesia melawan Bahrain. Spontan khalayak pemirsa pecandu bola di bis itu, termasuk saya tentu saja, bertepuk riang. Sang ibu dengan wajah bersungut-sungut akhirnya pasrah –meski tak rela—menonton tayangan sepakbola yang berakhir dengan kemenangan Indonesia 2-1 atas Bahrain.

Kini momen itu terulang kembali. Meski sampai tak ada insiden dramatis seperti sebelumnya, saya merasakan gejolak “heboh”melanda seisi bis. Di menit 38, saat Elie Aiboy, striker Indonesia asal Papua “menusuk” jantung pertahanan Korea Selatan, kami semua menahan napas. “Elie .ayooo..bikin Gol!,” teriak seorang penonton dibelakang saya. Ia ternyata sudah berdiri diatas bangku bis sembari mengacungkan tinju ke udara. Kami tegang. Dan ketika Elie gagal “mengeksekusi” padahal ia memiliki jarak tembak dan peluang yang cukup memadai, spontan helaan nafas kecewa dari para penonton terdengar. “Wah, sayang banget ya Mas. Coba saja Elie bisa lebih tenang dengan mengocek bola lebih dulu didepan gawang seperti waktu melawan Arab Saudi tempo hari, mungkin dia bisa bikin gol,” komentar lelaki yang duduk disamping saya. Kembali saya manggut-manggut setuju dengan mata tak lepas dari layar TV. Bis kami melaju pelan disela-sela kemacetan di tol Pancoran.


Dari semua penumpang di bis memang tidak semua secara serius dan antusias menyaksikan pertandingan sepakbola di TV. Seorang gadis berjilbab yang duduk di baris ketiga dari depan dengan tenang membaca bukunya. Sama sekali tidak terganggu oleh hiruk pikuk supporter Indonesia dadakan didalam bis. Tak jauh dari gadis itu duduk seorang lelaki muda malah lelap tertidur dibawah hembusan AC dan tidak menggubris kehebohan yang terjadi selama acara “nonton bareng” dadakan itu.

Serangan Timnas Korea Selatan dikubu pertahanan Indonesia begitu gencar. Namun berkat kelihaian kiper Markus Horison yang menggantikan Yandry Pitoy, peluang gol dari timnas negeri ginseng sekaligus semifinalis Piala Dunia 2002 itu dapat ditepis. Seorang penonton di baris kedua depan berteriak kencang setiap kali kiper yang memperkuat PSMS Medan itu ber-“jibaku” menghadang serangan Korsel. “Bagus Markus!,” begitu serunya.

Akhirnya gempuran intens Korsel memberikan hasil. Bola datar pendek yang disodorkan Lee Chun Soo dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Kim Jung Woo. Tendangan keras pemain bernomor punggung 17 itu kemudian menggetarkan jala gawang Markus Horison. 1-0 untuk Korea Selatan!.

Seketika kami semua terdiam. Hening. Hanya deru suara bis melaju kencang melewati kawasan Cawang mendekati Jatiwaringin. Tidak ada sorakan atau teriakan spontan. Kami seperti merasakan duka dan kepahitan yang dialami Timnas Indonesia yang dilatih dibawah asuhan pelatih Ivan Venkov Kolev asal Bulgaria itu.

Semangat kami bangkit lagi saat sang Striker Elie membuka kembali peluang gol dibabak pertama. Ia melakukan penetrasi dari sudut kiri kotak penalty Korsel. Kawalan bek lawan berhasil dilewatinya. Kembali kami tegang dan menahan nafas. Saya mendengar penonton dibelakang saya menggeram gregetan. “Eliee…ayooo,” suaranya lirih, lebih mirip rintihan memelas seorang kekasih yang tak ingin ditinggal pergi sang pacar. Saya menggigit bibir. Ini kesempatan besar untuk membuat imbang posisi. Sayang sekali, umpan silang datar pemain asal Papua ini tak ada yang menyambut. Kami kembali mendesah kecewa.

Korsel makin rajin menggempur pertahanan Indonesia. Nampak jelas, kualitas permainan tim yang dilatih oleh Peter Verbeek itu masih diatas timnas kita. Meskipun begitu, saya mengaku salut atas kegigihan Timnas Indonesia yang bertahan mati-matian dan juga seringkali melakukan serangan mendadak ke jantung pertahanan Korsel walau akhirnya gagal.

Saat babak kedua memasuki menit ke 65, bis yang saya tumpangi dan menjadi ajang nonton bareng dadakan itu akhirnya sampai ke tujuan akhirnya, Perumahan Cikarang Baru. Sebuah perjalanan mengesankan nonton bareng diatas bis selama kurang lebih satu setengah jam. Saya melanjutkan menonton tayangan seru itu dirumah, setelah lebih dulu melakukan kompromi mesra dengan istri tercinta yang ketika itu sedang menonton tayangan sinetron kegemarannya.

Update (20/7):

Tulisan ini juga dimuat di situs Jurnalisme Orang Biasa, Panyingkul. Bisa dibaca disini. Thanks untuk Panyingkul!


Label:

Kamis, Juli 12, 2007

TOLOOONG...ANAK SAYA TAKUT NAIK PESAWAT TERBANG!


SAYA tidak tahu, apakah anak saya telah mengalami sebuah indoktrinasi sistematis dari Mr.T tokoh bertubuh kekar yang--ironisnya-- takut naik pesawat, sampai-sampai sang rekan Murdock mesti membiusnya dulu sebelum dibawa terbang (tokoh ini diperankan oleh B.A.Baracus dalam serial televisi terkenal The A-Team).

Awalnya ketika kami sekeluarga berencana pulang ke kampung halaman istri saya di Yogya. Untuk alasan efisiensi waktu, saya sudah menetapkan agar kami sekeluarga mudik kesana dengan menggunakan pesawat terbang. Saya bahkan sudah mengontak travel agent langganan kantor saya untuk memesan tiket. Namun saat rencana itu saya ungkapkan, anak tertua saya, Rizky, ia tiba-tiba berseru kencang : "Aku tidak mau naik pesaawaaat! Takut Jatuh! Pokoknya tidak mauuu!!".

Saya terperangah.

Dan saya makin tersentak kaget, ketika si bungsu putri kecil saya, Alya ikut-ikutan nyeletuk dengan suara cadelnya, "Aku juga gak mauu naik pecawat ! Takut Jatuh!".


Saya menepuk jidat. Istri saya menelan ludah. Kami tercekam dalam kesunyian.

Peristiwa kecelakaan beruntun yang menimpa beberapa penerbangan di Indonesia, rupanya menjadi pangkal semua itu. Ada tragedi jatuhnya pesawat ADAM AIR di Perairan Majene dan peristiwa terbakarnya pesawat Garuda Indonesia saat mendarat di Bandara Adisucupto yang menjadi referensi seram bagi kedua anak saya untuk anti naik pesawat terbang.
Tayangan televisi yang memberitakan peristiwa tersebut dan kerap memberikan pemandangan dramatis menambah ketakutan kedua anak saya.

Menurut istri saya, ketika menonton tayangan peristiwa terbakarnya pesawat Garuda di Bandara Adisucipto dan ada adegan seseorang memapah korban berlumur darah dari pesawat naas itu, kedua anak saya spontan menutup mata dengan kedua tangannya. Saya sempat menegur istri saya agar tidak mengarahkan kedua anak saya menonton tayangan "horor" di televisi. Tapi apa daya, hampir semua stasiun TV menayangkan kejadian itu dan meskipun televisi kami matikan, media non televisi lainnya seperti suratkabar (dimana saya berlangganan 2 suratkabar harian) ikut memberitakan peristiwa tragis tersebut.

Saya tak habis pikir kenapa kedua anak saya tiba-tiba mengalami trauma seperti ini. Rizky sebelumnya sudah pernah naik pesawat tiga kali pulang pergi (dua kali, dari/ke Jakarta ke/dari Yogya dan satu kali, dari/ke Jakarta ke/dari Makassar) sementara Alya baru satu kali saat kami mudik ke Makassar 2 tahun silam. Dan saya sama sekali tidak mendapatkan alasan yang cukup masuk akal, apa yang membuat mereka berdua tiba-tiba anti naik pesawat terbang. Saya masih ingat, si Rizky malah sangat menikmati penerbangannya. Juga sang adik yang bahkan dengan antusias duduk berdua bersama kakaknya dipinggir jendela menyaksikan awan dari balik kaca.

Saya akhirnya memutar otak untuk melakukan pendekatan persuasif agar kedua anak saya "sembuh" dari trauma naik pesawat terbang. Yang pertama adalah main pesawat terbang diatas tempat tidur. Saya bertindak sebagai penumpang, Rizky sebagai pilot dan adiknya,Alya, sebagai pramugari. Istri saya yang tersenyum simpul menyaksikan aksi kami disamping pintu kamar, bertindak sebagai Menara Pengawas Kendali Pendaratan/Pemberangkatan.

Rizky dan Alya menyusun bantal dan mengibaratkannya sebagai body pesawat. Saya, sebagai penumpang--yang digambarkan sebagai wong ndeso' , lugu dan katro' -- menaiki "pesawat" sembari celingak-celinguk genit seperti gaya Tukul Arwana di acara Empat Mata Trans-7. Kedua anak dan istri saya tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan aksi teatrikal saya itu. Hmm..syukurlah ini awal yang baik, pikir saya.

Sebagai pilot, Rizky menempatkan saya dibagian tengah "pesawatnya". Dan Alya, sebagai pramugari menawarkan kopi kepada saya dengan peralatan mainan masak-masakan miliknya. Istri saya, nampaknya menikmati perannya sebagai Menara Pengawas dengan baik. Ia hanya tetap berdiri disamping pintu, tetap tersenyum dan tentu saja, tetap mengawasi.

"Brruuuummm...", mulut si Rizky menggeram ibarat pesawat sudah mulai lepas landas. Saya bergoyang-goyang dengan gaya kocak seperti penumpang di angkot ketiduran yang baru saja melindas "polisi tidur". Si Alya memegangi punggung saya agar tidak bergerak lagi. Mulutnya menceracau tak jelas, mungkin seperti mengomel, "Ini penumpang satu kok ndeso banget sih? Mbok ya diam gitu lho and enjoy your flight!".

"Pesawat terbang" kami menderu kencang diatas awan. Membawa satu orang penumpang yang katro' yang dengan penuh penderitaan menikmati cerocos omelan tak jelas dari seorang pramugari cilik yang tak henti-hentinya menyodorkan cangkir kopi kosong untuk pura-pura diminum.

"Ituuu....awas ada buuruung terbaaanng!! Hati-hatiii..nanti ketabrak!", saya berseru sambil berpura-pura menunjuk-nunjuk panik ke arah "luar" pesawat. Alya dan Rizky ikut-ikutan mengikuti telunjuk saya.

"Itu bukan burung, Pa. Itu awan!" sahut Rizky tenang. Ia kembali ke "kemudi pesawatnya". Alya manggut-manggut menunjukkan solidaritasnya. Saya keki. Istri saya terkikik geli. Tapi dalam hati saya bersyukur, anak saya ternyata cukup terampil dalam hal mengendalikan kekacauan. Sungguh sangat berbakat sebagai polisi dan politisi.

Beberapa saat kemudian, persiapan pendaratan dilakukan. Dengan suara ribut Rizky "mendaratkan" pesawatnya dengan mulus. Alya dan ibunya bertepuk tangan. Saya tersenyum lebar. Inilah saatnya memasukkan "doktrin" itu.

"Nah, jadi kalau begitu kita pulang ke rumahnya Mbah/Eyang di Yogya atau kerumah Bapu/Oma di Makassar, pake pesaaaa.....", saya "menggantung" kalimat terakhir dengan harapan kedua anak saya menyambungnya dengan kata-kata yang "melegakan" hati.


"TIDAK MAU! AKU TIDAK MAU NAIK PESAWAT! TAKUT JATUH", tukas Rizky cepat dan lantang.

"AKU JUGA! AKU TIDAK MAU NAIK PECAWAT!" sambung si adik Alya tak kalah lantangnya. Mata kedua anak saya menyala-nyala, menyiratkan keyakinan kuat mereka.

Duh, Gusti!.


Saya kembali menepuk jidat dan istri saya pun mengelus dada. Prihatin.


Jurus persuasif lainnya kami terapkan. Kali ini memberi iming-iming hadiah kegemaran mereka jika mereka tak mau naik pesawat terbang. Tapi itu juga tidak mempan. Mereka tetap memilih tinggal dirumah saja dan tak mau dapat hadiah apapun daripada mesti naik pesawat terbang. Tampaknya ada pengalaman traumatik tersisa dibatin mereka. Saya jadi putus asa.


Tapi saya belum menyerah. Kuncinya ada pada Rizky. Adiknya si Alya hanya ikut-ikutan apa kata kakaknya saja. Sayapun melakukan audit investigasi atas seluruh CD Playstation miliknya. Ultimatum pun saya jatuhkan : Jika Rizky tidak mau naik pesawat terbang, maka tidak boleh lagi dia main game Playstation "tembak-tembakan pesawat" (begitu istilah dia, saya sendiri tidak tahu apa nama game-nya). Saya beralasan, masa' berani main game tembak-tembakan pesawat terbang tapi tidak berani naik pesawat.

Tapi, lagi-lagi, anak saya yang memiliki dua "unyeng-unyeng" diatas kepalanya ini (Istilah bakunya saya kurang mengerti, namun ini merujuk pada "pusaran rambut" dipuncak kepala, konon kata orang, "Unyeng-Unyeng" lebih dari satu menunjukkan kecerdikan sekaligus kenakalan sang pemiliknya) kembali menunjukkan bakat cemerlangnya sebagai calon politisi.


"Rizky mau main bola aja kalau begitu, nggak usah main tembak-tembakan pesawat," sahutnya tenang seraya mengambil koleksi CD Playstationnya.


Saya garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


Jika langkah persuasif dan agresif sudah dijalankan, apa boleh buat, langkah berikutnya adalah kompromi sembari tetap mencari "jurus-jurus baru" membujuk kedua anak saya itu naik pesawat.

Kecelakaan Pesawat Terbang domestik yang terjadi di negeri ini sungguh sangat menggiriskan. Faktor keselamatan penerbangan menjadi prioritas yang kerap diabaikan. Jika anda baca di posting ini di awal tahun 2007 saja sudah ada 23 insiden penerbangan yang terjadi. Belum lagi tulisan ini yang menceritakan "Fear Factor" terbang dengan penerbangan domestik di Indonesia. Yang membuat saya geli dan sekaligus miris membaca tulisan di Majalah Mingguan Tempo edisi tanggal 9-15 Juli 2007 dimana dalam salah satu laporannya disebutkan telah terjadi insiden sebuah pesawat Boeing 737 dari sebuah penerbangan domestik di Indonesia yang kehilangan 13 baut roda depan ketika mendarat di Bandara Polonia Medan empat pekan sebelumnya.Hanya tersisa 1 baut saja untuk menahan pesawat 60 ton tersebut.

"Untunglah", insiden itu hanya membuat kaki pesawat "keseleo". Maka dibentuklah "Tim SAR" yang terdiri dari satuan pengamanan dan pemadam kebakaran bandara. Bukan untuk menolong para penumpang yang selamat dan sehat wal-afiat, namun mencari 13 baut yang tercecer di landasan sepanjang 2,9 kilometer itu. Karena kejadian itu berlangsung dimalam hari, "tim SAR" dibekali senter yang jika dari jauh mereka terlihat seperti pemburu katak. "Tim SAR" itu mesti menyingkir dulu sebentar dan menangguhkan "Operasi Pencarian Baut" saat ada pesawat yang mendarat atau lepas landas. Tak kurang Mardjono Siswosuwarno, anggota KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) yang ketika itu menyelidiki insiden tersebut didekat pesawat yang cedera sempat geleng-geleng kepala menyaksikan kejadian itu. Tingkah laku "Tim SAR" dan otoritas bandara membuatnya ngenes. "Masa' pesawat diperbolehkan lepas landas dan mendarat di landasan yang kotor. Ini melanggar buku teks," ujarnya pada Tempo.

Saya pun tak kalah geleng-geleng kepala dengan Pak Mardjono. Bagaimana jika baut yang jatuh itu saat pesawat sedang mengudara?. Plis deh!. Masa' sih Mas Pilot minta ijin dulu ke para penumpangnya dan memberi pengumuman ke para penumpang dengan suara yang berusaha "ditenang-tenangkan" seperti ini : "Ma'af para penumpang, berhubung baut roda depan jatuh, saya permisi dulu sebentar mau ngambil ya?. Jangan lupa banyak-banyak berdoa dan Selamat Tinggal semuanya!. Have a Nice Flight!". Hehehe.

Pesawat terbang bukanlah Metromini. Yang ketika mogok dijalan, sang kondektur dengan raut wajah tanpa dosa bisa meminta para penumpang membantu mendorong bersama-sama hingga metromininya bisa berjalan kembali (saya kerap mengalami hal ini, hingga terkadang bos saya dikantor terheran-heran melihat kemeja saya basah oleh keringat seperti baru saja habis mengikuti turnamen lari marathon Cikarang-Jakarta). Jika standar keselamatan penerbangan diabaikan dan dijadikan prioritas terakhir, maka yakinlah, dunia penerbangan domestik di Indonesia berada di senjakala dan ditubir jurang kehancuran. Keseriusan dan kedisiplinan aparat terkait serta operator penerbangan domestik terutama dalam hal mengedepankan faktor keselamatan penerbangan dan tidak semata-mata mementingkan aspek komersil belaka, sangat diperlukan. Jangan sampai harga tiket pesawat akan sama murahnya dengan nyawa manusia. Mestinya larangan terbang Uni Eropa untuk seluruh pesawat domestik Indonesia melintas dilangit mereka menjadi sarana introspeksi bagi kita semua untuk meningkatkan kualitas penerbangan di Indonesia.

Sembari menggenggam pil anti sakit kepala dijemari tangan, saya sempat berfikir, ide si Murdock sableng untuk membius Mr.T dalam film seri The A-Team boleh juga diaplikasikan. Mungkin tidak perlu pake obat bius dosis tinggi tapi obat pilek ringan yang menyebabkan kantuk sehingga kedua anak saya bisa tertidur saat pesawat mengudara. Lamunan saya buyar saat mendengar suara istri saya.

"Pa, kok Pil KB saya berkurang satu ? Papa minum ya ?" tegur istri saya cemas.

Saya kaget setengah mati.

Pil KB yang saya sangka Pil anti sakit kepala itu sudah masuk ke perut saya sejak tadi. Setidaknya bisa ditarik tiga hikmah dari peristiwa ini. Yang pertama, untuk menghindari resiko salah ambil obat, janganlah coba-coba berfikir mengenai kekisruhan pengelolaan penerbangan domestik Indonesia ketika sedang sakit kepala, yang kedua, jangan coba-coba berfikir untuk membius anak agar bisa naik pesawat terbang seperti yang dilakukan oleh Murdock terhadap Mr.T di A-Team karena bisa kualat akibatnya (juga bisa kena damprat oleh Kak Seto dkk di Komisi Nasional Perlindungan Anak), dan yang ketiga adalah, sudah saatnya beralih ke Kondom sebagai alat kontrasepsi alternatif..hehehe



Label: